My Favorite Indonesian Content Creators

2016 adalah salah satu tahun gemilang buat para content creator khususnya di ranah video online. Saya mengikuti perkembangan tersebut juga karena tempat saya bekerja saat ini berhubungan dengan para content creator ini. Kebayang nggak setiap hari kerja di kantor saya nontonin banyak video di YouTube setiap harinya? Kalau di luar negeri sebut saja London dan sekitarnya (salah satu negara yang content creatornya banyak saya idolakan) content creator ini mungkin bisa disejajarkan dengan artis papan atas atau mungkin lebih terkenal lagi dari sekadar artis. Subscribers mereka mencapai angka jutaan. Bahkan yang terbesar sosoknya sudah masuk di salah satu spot museum patung lilin Madame Tussauds. Keren nggak?

Nah, di posting kali ini saya mau bahas justru bukan mereka content creator yang sudah mendunia. Tapi justru mereka-mereka content creator dari Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir channel-channel YouTube Indonesia banyak yang lahir dan mulai berkembang dari segi jumlah subscribers, konten, dan juga jumlah viewers. Dari banyak yang tumbuh itu, tentunya hanya beberapa yang menarik buat saya dan saya suka. Langsung aja yuk ke list berikut ini.

1. Tim2One – Chandra Liow

Screen Shot 2016-04-19 at 8.24.18 PM

Source: Tim2One – Chandra Liow YouTube Channel

Chandra Liow adalah salah satu content creator dengan subscribers terbesar di Indonesia. Jumlahnya sekitar lebih dari 400.000 ribu saat ini. Di channel ini sebetulnya Chandra Liow nggak sendiri tapi dibantu dengan teman-temannya yang mereka menamakan dirinya sebagai Tim2One. Dari awal munculnya dulu Chandra sebetulnya memproduksi konten gaming, beatbox, dan kemudian sketsa, lalu beralih ke konten vlog dan juga film pendek serta musik video. Kualitas video jangan ditanya Chandra salah satu yang punya kualitas video yang bagus banget dan juga storytelling dan sinematografi yang ciamik. Chandra Liow yang atraktif banget bikin vlog yang dia upload nggak pernah sepi penonton. Bahkan ketika dia galau aja dia bisa bikin konten yang bagus banget tanpa ada banyak omong. Hanya dengan shot-shot yang dia pakai untuk ceritain kegalauannya itu dalam satu video yang jujur tanpa banyak kata.

2. Arief Muhammad

Screen Shot 2016-04-19 at 8.48.20 PM

Source: YouTube Channel Arief Muhammad

Kalau ngikutin akun @poconggg di Twitter pasti nggak asing deh sama sosok ini. Semenjak awal 2016 ini Arief lagi rajin-rajinnya upload vlog. Yang khas dari konten dalam channelnya arief ini adalah Arief menyuarakan apa yang ingin orang lain suarakan seperti misalnya vlognya tentang postingan di path, sketsa tentang jenis-jenis teman yang nyebelin, bedanya cewek dan cowok saat patah hati. Nah, konten-konten tersebut dia package dalam sebuah video yang bagus dan temanya relate banget dengan kehidupan banyak orang. Selain itu kalau dilihat dari segi konten vlog yang dia rajin upload akhir-akhir ini, Arief menampilkan bukan hanya sekadar kesehariannya tapi sebuah tontonan yang menarik baik dari segi relationship, bisnis, dan info-info lainnya yang bikin betah penonton untuk nungguin videonya sampai habis. Editingnya nggak perlu ditanya bagus banget dan nggak berlebihan. Kalau nonton videonya Arief akan lebih berwarna kalau pas dia lagi berdua sama tunangannya Tipang. Entah kenapa jadi lebih seru aja. Dan satu lagi kenapa vlognya Arief ini bisa engange ke penontonnya? Karena Arief di beberapa episode vlognya mengajak penontonnya untuk ikut berinteraksi. Nggak heran kan jumlah view dan subscribersnya makin hari makin bertambah banyak.

3. Eka Gustiwana

Screen Shot 2016-04-19 at 8.59.39 PM

Source: Eka Gustiwana YouTube Channel

Dewanya speech composing Indonesia. Karyanya Eka selalu jadi sorotan karena dia bisa menggubah satu video yang bentuknya speech jadi sebuah lagu yang kadang lucu dan menggelitik. Sayangnya jadwal upload video Eka suka nggak tentu. Tapi, tetep saya tungguin dan selalu jadi prioritas untuk ditonton setiap ada notifikasi email masuk saat dia posting video.

4. SkinnyIndonesian24

Screen Shot 2016-04-19 at 8.53.06 PM

Source: Skinnyindonesian24 YouTube Channel

Da Lopez bros ini salah satu kreator yang perlu dihighlight juga. Dulu pas semester-semester akhir kuliah saya udah nonton video-video mereka yang mereka bikin rame-rame sama temen-temen mereka. Makin ke sini Dovi Jovi semakin disibukkan dengan project lain seperti film layar lebar yang pasti menyita banyak waktu mereka. Jadi, walau channel mereka masih aktif tapi jeda dari video satu ke video yang baru suka jauh banget. Tapi, tetep kok videonya skinny salah satu yang selalu saya tunggu.

5. Cameo Project

Screen Shot 2016-04-19 at 9.04.20 PM

Source: Cameo Project YouTube Channel

Bicara soal Indonesia channel Cameo Project emang jagonya. Dari mulai sketsa komedi yang khas indonesia dengan segala kelokalannya, konten-konten yang Cameo Project suguhkan juga penuh isi mulai dari issue politik sampai issue sosial yang sensitif. Tapi, semua itu mereka kemas dengan latar pengetahuan dan riset yang mumpuni. Sehingga kontennya lebih berisi. Channel ini salah satu yang lengkap mulai dari musik, sketsa komedi, sampai film pendek. Penggarapan setiap videonya pun dibuat dengan sangat bagus sehingga kualitas video-videonya Cameo nggak diragukan pastinya.

6. Raaneey (Rani Ramadhany)

Screen Shot 2016-04-19 at 8.12.31 PM

Source: Raaneey YouTube Channel

Cewek berprestasi yang jago main drum ini bikin betah nontonin videonya berulang-ulang. Salah satu video cover drum yang Rani buat pernah dapet sambutan bagus dari Lady gaga loh. Video favorite saya yang ada di channel Rani ini adalah pas Rani duet sama satu drummer cowok yang namanya Handy Salim nge-cover lagu Animal-nya Maroon 5. Entah berapa kali saya tonton videonya. Keren banget! Belum lagi selain dia aktif di YouTube, Rani  ini adalah salah satu finalis Asia Next Top Model loh.

7. Aulion

aulion-stopmotion

Source: Aulion YouTube Channel

Kalau nonton video Aulion mata kita pasti termanjakan dengan warna-warni yang lucu-lucu. Sebagian besar video yang Aulion buat bentuknya adalah stopmotion. Nah, ini yang bikin kontennya Aulion khas. Bikin satu video stopmotion effortnya pasti luar biasa dan storytellingnya harus banget disusun dengan baik. Selain itu juga kalau nonton beberapa vlognya Aulion yang sebagian besar dia syut di kamarnya yang dia dekot bagus banget dan rapi, bikin pengin punya kamar begitu.

8. Raditya Dika

Screen Shot 2016-04-19 at 8.28.50 PM

Source: Raditya Dika YouTube Channel

Akhir-akhir ini si peraih Gold Play Button pertama di Indonesia ini jadi sering upload video vlognya di YouTube. Banyak yang bilang kalau sudah terkenal mau bikin apa aja pasti laku dan banyak yang tonton. Tapi, menurut saya, Raditya Dika punya khas sendiri di vlognya. Ada informasi yang sungguh berguna dalam vlog yang dia upload. Dia ngejelasin tentang kegiatannya sehari-hari tapi juga ada pelajaran yang bisa di dapetin pas nonton videonya ini. Baik dari segi pembuatan film sampai bagaimana proses development cerita dan skenario film.

9. Agung Hapsah

Screen Shot 2016-04-19 at 8.33.10 PM

Source: Agung Hapsah YouTube Channel 

Tinggal di daerah yang cukup jauh dari kota besar nggak membatasi kreator ini untuk membuat konten yang bagus. Di dalam semua videonya Agung yang masih duduk di bangku SMA ini menunjukkan kejujurannya dalam berkarya. Dan itu yang menjadikannya khas. Kalau lihat beberapa review filmnya kamu bisa-bisa kasih standing applause karena analisis dia detil dan memperlihatkan bagaimana anak ini memang cerdas. Cara ngomongnya yang to the point juga bisa jadi salah satu yang membuat Agung Hapsah punya ciri khas.

10. Kittendust

Screen Shot 2016-04-19 at 8.50.24 PM.png

Source: Kittendust YouTube channel

Vlogger cewek dari Indonesia masih bisa sedikit jumlahnya karena kebanyakan konten kreator cewek di sini fokus dengan konten make up dan beauty. Padahal banyak loh yang bisa diexplore oleh mereka lebih dari sekadar ngebahas make-up. Nah, salah satunya yang bisa jadi referensi ini nih, Fathia Izzati, a.k.a Kittendust. Chia, begitu biasa dia disapa, referensi vloggernya dia sebagian besar adalah vlogger luar yang secara konten memang pastinya kuat banget dan engange buat penontonnya. Cewek yang jago banget main ukulele ini mengisi channel YouTube-nya dengan vlog dan cover lagu dengan ukulelenya. Sebagian besar vlognya Chia bawakan dalam bahasa inggris yang fasih sekali. Dan kalau kamu langganan di channelnya Chia, kamu nggak akan nyesel karena setiap video yang chia upload selalu menarik dan original.

Advertisements

[Review] The Time We Were Not In Love: Yang Terindah Dari Sebuah Persahabatan

Screen Shot 2016-03-20 at 2.14.09 PM.png

Ada yang bilang persabahatan antara dua orang lawan jenis nggak akan pernah menjadi sebuah persabahatan yang murni. Baik keduanya atau salah satunya pasti bakal ada yang baper. Seperti yang sudah ada buktinya salah satu seleb Indonesia Ayudia Bing Slamet yang akhirnya menikah sama sahabatnya dari jaman sekolah dan hubungan mereka terlihat manis sekali di sosial media.

Apa sih rasanya bisa jatuh cinta sama sahabat sendiri? Bakalan jadi canggung atau justru jadi santai? Nah, gambaran situasi seperti itu bisa didapet dari drama korea yang diperanin sama Ha Ji Won dan Lee Jin Wook. Drama ini tayang di SBS tahun 2015 lalu. Saya nonton drama ini juga karena referensi dari temen saya. Drama Korea dengan judul The Time We Were Not In Love ini sebenarnya based on salah satu series Taiwan, dan banyak yang bilang versi Taiwannya itu lebih sweet lagi kebanding versi Koreanya ini.

Cerita dalam drama ini cukup klise memang, tentang dua orang sahabat yang sudah 17 tahun bersama. Rumah mereka tetanggaan. Keluarga si cewek yang namanya Oh Ha Na udah sayang banget sama Choi Won dan udah dianggap kayak anak sendiri. Oh Ha Na dan Choi Won sama-sama umur 34 tahun. Mereka sukses di karirnya masing-masing. Choi Won sebagai Flight Attendant sementara Oh Ha Na sukses di kantor produsen sepatu bermerk ternama. Di awal episode kita disuguhkan dengan pengenalan karakter yang benar-benar cepat dan to the point. Lengkap dengan insert beberapa adegan flashback yang menginformasikan tentang hubungan Oh Ha Na dan Choi Won yang sudah terjalin sejak mereka sekolah.

Dua orang yang sukses dengan karirnya ini ternyata punya satu kesamaan. Sama-sama nggak beruntung dalam soal cinta. Oh Ha Na dikhianatin sama pacarnya yang selingkuh dengan teman satu kantornya sampai hamil sehingga hubungan Oh Ha Na harus terima diputusin. Nggak rela ngelihat sahabatnya disakitin begitu Choi Won selalu hadir sebagai pahlawan yang selalu ngelundungin Oh Ha Na. Bahkan di episode-episode berikutnya saat Oh Ha Na dimanfaatin sama salah satu anak magang di kantornya Choi Won jadi orang pertama yang meluk Oh Ha Na pas dia nangis kejer di tengah hujan. Wah, drama banget deh adegannya. Tapi, sweet… Saya juga mau punya sahabat modelnya kayak Choi Won ini.

Cerita bergulir sampai 16 episode dengan berbagai rintangan sampai akhirnya dua orang sahabat ini sadar bahwa mereka saling butuh dan saling cinta. Banyak konflik yang terjadi mulai dari Choi Won yang dikejar-kejar pramugari junior di kantornya sampai mantannya Oh Ha Na yang dulunya nggak dateng saat acara pertunangan mereka balik lagi ke kehidupan Oh Ha Na. Ribet? Pasti! Tapi, seperti biasa di drama Korea nggak ada karakter yang bener-bener jahat kayak di sinetron Indonesia. Semua masih terlihat manusiawi dan mereka mempertahankan kepentingan yang masuk akal. Bahkan di akhir pun sekesal-kesalnya Oh Ha Na yang diputusin sama cowoknya yang selingkuh itu pada akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima bahwa ya memang hubungan mereka nggak bisa dilanjutin lagi. Sangat berbesar hati memang si Oh Ha Na ini. Oleh karena itu karakternya jadi lovable banget.

Bicara soal drama Korea karakter dan cerita menjadi salah satu highlight wajib. Di sini tentunya saya akan bicarakan dua hal itu. Saya buka dengan karakter. Kalau karakternya nggak menarik dan unik cerita nggak mungkin bisa merebut perhatian penonton. Seperti dalam drama ini tokoh utama cewek digambarkan hampir sempurna dalam semua aspek yang terlihat dari dirinya. Mulai dari fisik yang cantik. Gaya berdandannya juga digambarkan oke banget dan sangat merepresentasikan dirinya yang berprofesi sebagai orang yang menggeluti dunia fashion. Oh Ha Na punya keluarga yang sayang sama dia. dan orang-orang sekelilingnya yang juga sayang Oh Ha Na, termasuk Choi Won. Tapi sayang dia sial dalam urusan percintaan. Di dalam kasus ini terlihat sekali kan ada yang hilang dari semua keberuntungan yang Oh Ha Na miliki. Dengan seringnya dia disakiti oleh mantan-mantan pacarnya itu membuat Oh Ha Na jadi sosok yang cukup kurang peka khususnya dalam menerima sinyal cintanya si Choi Won. Dan bisa jadi hal itu yang dijadikan tembok pertahanannya agar nggak lagi tersakiti. Hal-hal seperti ini yang membuat karakter Oh Ha Na terasa ada dan hidup. Begitu pun dengan Choi Won. Di balik sega kesempurnaannya dia ya ganteng, pinter, dan baik banget ternyata dia menyimpan luka. Ditinggal ibunya sendirian sejak dia masih sekolah juga menjadi luka yang sulit sembuh. Di saat seperti ini Oh Ha Na yang jadi pelengkap hidupnya. Oh Ha Na yang menjadi orang pertama yang datang nemenin Choi Won di rumahnya. Ngejagain dia waktu sakit dan lain sebagainya. Ditambah lagi si Choi Won ini kerjanya sebagai pramugara tapi sebetulnya ada mimpi yang dia nggak kejar dan malah memilih posisi aman dengan hanya bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang menarik dari dua karakter ini adalah mereka sama-sama menyimpan luka tentang kehilangan dan ditinggalkan. Untuk itu makanya terasa banget mereka harus sama-sama terus.

Screen Shot 2016-03-20 at 3.18.55 PM.png

 

Kalau dilihat dari segi cerita sebenarnya cukup kuat. Hanya saja bikin gemas. Kenapa sih mereka lama banget sadar kalau sebenernya mereka itu emang harus banget bareng-bareng selamanya. Plot yang terasa paling dragging dan membosankan adalah saat Mantannya Oh Ha Na yang pianist itu balik ke kehidupannya Oh Ha Na. Cerita antara mereka berdua lama banget plotnya. Walau pada akhirnya sih ya kemunculan si pianist itu yang juga jadi pemicu Oh Ha Na dan Choi Won bisa saling jujur pada akhirnya. karakter-karakter pendukung lainnya menurut saya kurang kuat namun kehadiran mereka memang perlu. Seperti salah satunya adiknya Oh Ha Na. Diceritakan dalam drama ini Dae Bok jadi loser di keluarga mereka. Selalu saja orangtua mereka menganggap Dae Bok ini nggak berguna dan membandingkan dengan Oh Ha Na yang karirnya sukses. Tapi, pada akhirnya lagi-lagi… meski nggak terlalu banyak diceritakan Dae Bok ini malah jadi hero loh di akhir cerita. Kalau bukan karena dia naskah yang Choi Won bikin nggak mungkin dilirik sama produser film karena sebelumnya Dae Bok bikinin komik dari cerita tersebut dan kemudian jadi viral. Biasanya di drama-drama lain saya selalu jatuh cinta dengan subplot dari karakter-karakter pendukung di dalam sebuah drama. Tapi, untuk drama kali ini saya merasa nggak begitu terbius dengan subplot-subplotnya. Cerita Oh Ha Na dan Choi Won jadi satu-satunya fokus saya selama nonton drama ini.

Di sepanjang episode drama ini yang saya puji-puji tentu ada beberapa hal yang jadi pertanyaan juga buat saya. Tentang logika cerita yang sedikit bikin bertanya-tanya. Salah satu di antaranya adalah tentang jadwalnya Choi Won sebagai seorang flight attendants. Kenapa bisa dia digambarkan sering banget punya waktu luang ketimbang ada di atas udara. Entah mungkin karena dia seorang senior atau bagaimana tapi dia sering banget dan selalu punya waktu untuk Oh Ha Na. Bahkan dalam satu hari dia bisa berangkat lalu pulang di sore hari kayak orang kerja kantor. Correct me if I’m wrong ya. Mungkin saya yang kurang pengetahuan soal dunia kerja di maskapai penerbangan.

Screen Shot 2016-03-20 at 2.49.08 PM.png

Selain itu ada juga beberapa degan yang menurut saya cheesy. Salah satunya adalah saat Oh Ha Na dilamar Choi Won di pesawat. Dialognya sih nggak masalah, tapi saya mempertanyakan kenapa harus ada adegan tersebut sementara di episode sebelumnya Choi Won sudah ngelamar Oh Ha Na di depan Ibu dan Ayahnya Oh Ha Na. Saya pikir itu sudah cukup jelas menggambarkan kalau mereka akan menikah nantinya tanpa harus diulang dua kali adegan melamar.

Screen Shot 2016-03-20 at 2.40.56 PM.png

Satu lagi yang bikin saya terbelalak dan geleng-geleng kepala, yakni saat mereka menikah. Saya kecewa karena “What?” begini doang? Cuma digambarin adegan Oh Ha Na pakai baju pengantin terus jalan ke rumah Choi Won yang ada di sebelah tumahnya. Sepanjang episode saya nungguin adegan itu tapi cuma begitu aja akhirnya. Kecewa.

Screen Shot 2016-03-20 at 2.55.17 PM.png

Tapi, tentunya hal-hal yang membuat kecewa bisa ditutupi dengan hal menarik dari drama ini. Di luar karakter dan plot, hal menarik lainnya dari drama korea ini adalah dialog. Dialog dari drama ini menurut saya sangat cerdas. Bisa mengemas bagaimana dekatnya Oh Ha Na dan Choi Won ini sehingga penonton bisa ngerasain betapa dalamnya persahabatan mereka berdua. Salah satu contoh yang paling saya suka adalah saat mereka sudah resmi jadi sepasang kekasih dan akhirnya suatu malam mereka hooked up di rumah Choi Won. Oh Ha Na bilang tentang kejadian dulu waktu Choi Won masih SMA dia panik karena badannya tambah tinggi tiba-tiba sehingga harus lekas mengganti tempat tidurnya menjadi yang lebih besar. Choi Won amazed banget karena Oh Ha Na ingat hal sekecil itu. Dan dibalas oleh Oh Ha Na bahwa setiap hari saat dia menutup mata semua hal tentang Choi Won selalu melintas di pikirannya. Sederhana memang kalimatnya namun, deep banget dan sweet tentunya. Dialog ini yang menjadi salah satu favorit saya.

Screen Shot 2016-03-20 at 2.24.40 PM.png

Masih ada sederet hal yang sebetulnya ingin saya jelaskan juga dalam review kali ini. Tapi, nantinya malah jadi kepanjangan dan spoiler banget buat kamu yang belum nonton. Di akhir review saya mauk kasih rate untuk drama ini yaitu 3.8 dari 5 bintang. So, buat kalian yang belum nonton coba deh nonton 16 episode drama ini. Nggak terlalu dreamy karena terasa riil dunia ceritanya. Nggak ada pewaris tahta yang jatuh cinta sama cewek biasa seperti yang sering muncul di kisah drama-drama Korea. Tapi, dijamin bisa bikin kamu pengin banget punya sahabat kayak Choi Won ini.

 

 

 

 

 

 

Sedang Lelah Mendengar ungkapan “Tidak Bisa”

Beberapa waktu yang lalu saat sedang merasa begitu down dengan segala hal yang berhadapan lurus dengan pandangan mata salah seorang teman bilang “Saya sedang lelah mendengar ungkapan tentang ketidakbisaan dari semua orang yang mendengar cerita saya. Lakukan apa pun yang kamu percaya kamu bisa.” Mendengar kata-kata itu saya jadi tertampar. Kalimatnya memang cukup menggambarkan apa yang coba saya utarakan.

Mengapa harus mempertimbangkan ucapan banyak orang yang pendapatnya justru hanya membuat kamu terbatas untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya kamu anggap mungkin? Bukankan Tuhanmu sejak awal menjanjikan sebuah kemungkinan-kemungkinan? Mengapa harus ragu melangkah jika semua harapan masih ada walau sedikit? Sementara banyak orang yang lebih melihat keterbatasan itu malah jadi peluang? Mengapa harus merasa iri dengan keberuntungan orang lain yang mereka dapatkan sejak lahir sementara perjuangan yang kamu lakukan untuk meraih sesuatu justru akan lebih berharga kebanding yang mereka miliki? Mengapa harus takut gagal walau kamu tahu sebuah proses jatuh bangun akan indah pada waktunya? Mengap harus takut menerobos hujan badai padahal kamu tahu di ujung redanya titik air itu akan kamu temukan satu cahaya terang dan berwarna lebih dari sebelumnya?

Inti dari itu semua jangan pernah takut dengan apa yang ada di hadapanmu. Keterbatasanmu mungkin bisa kamu tutupi dengan semangat dan kepercayaan bahwa semua hal mungkin terjadi di dunia ini.

Seperti salah satu artikel yang beberapa minggu lalu saya baca tentang hidup salah seorang fans yang berubah luar biasa ketika dia berhasil mengencani idolanya.

 

Apa yang diraih cewek itu nggak mengkhianati usaha yang dia jalani. Itu hanya salah satu contoh bahwa hanya dengan optimis dan mendobrak semua keterbatasan yang ada segala yang nggak mungkin bisa jadi mungkin.

Tapi, di balik itu semua masih ada ribuan kasus yang pada kenyataannya terbuntukan dengan sebuah takdir. Kalau sudah begini apa sebaiknya yang dilakukan? Menghitungnya sebagai kegagalan dan menjadi titik balik untuk mencari altenatif lain atau justru ladang untuk memupuk semangat untuk bisa lebih gigih memperjuangkannya lagi? Semua berbalik lagi kepada esensi hidup akan sebuah pilihan yang harus dijalani. Dan hidupmu hanya untuk satu kali.

Kenapa Hobi Bikin Cerita Dreamy?

Screen Shot 2016-02-11 at 12.06.24 AM

Menulis bagi saya adalah jalan keluar terbaik dari sebuah kegundahan. Melalui deretan kata dan rangkaian kalimat saya selalu merasa ada sesuatu beban yang terlepas di tiap barisnya. Membuatnya menjadi sebuah cerita juga salah satu penyembuh tersendiri. Namun, cerita yang seperti apa yang bagi saya menjadi sebuah jalan keluar yang membebaskan saya dari situasi galau tak karuan? Kisah berbau dreamy jawabannya.

Untuk kalian yang mengikuti tulisan saya dari buku pertama dulu mungkin tahu bagaimana model cerita yang saya bangun. Karakter dan seluruh adegan yang terajut dalam setiap halamannya punya kesan dreamy luar biasa. Nggak heran kalau karakter-karakter tersebut bisa mendadak jadi idola. Saat memulai menulis saya selalu yakinkan pada diri saya bahwa saya harus jatuh cinta luar biasa dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya. Kalau itu belum terjadi rajutan kisah demi kisahnya pasti sulit terjalin dengan baik.

Menulis adalah jalan keluar. Melalui jalan ini mungkin saya bisa merasakan bagaimana jatuh cinta tanpa merasa sakit hati. Deretan adegan yang terramu di dalamnya bisa saya bayangkan dalam bentuk visual dan kadang bisa bikin senyum-senyum sendiri. Mungkin kalian sudah anggap saya gila. Namun, begitu adanya ketika saya mencoba menuangkan sebuah kisah dalam bentuk tulisan. Dan ketika itu bisa terjadi keyakinan saya menjadi utuh ketika cerita tersebut sidah jatuh ke tangan pembaca, bahwa mereka pun akan bereaksi sama seperti saya saat saya menuliskannya. Terlalu pede? Mungkin. Tapi, ini bisa jadi sesuatu ukuran apakah cerita tersebut akan bisa diterima banyak orang atau nggak.

Menulis adalah jalan keluar. Cerita berbau dreamy memang banyak pro dan kontranya. Ada sebagian besar pembaca yang nggak suka dengan cerita yang terlalu dreamy. Namun, cerita jenis ini menurut saya juga merupakan jalan keluar yang manis. Bukan berarti habis baca langsung baper berkepanjangan. Tapi, cerita tersebut bisa jadi media hiburan yang cukup ampuh. Kalau hari-hari sudah penuh dengan berbagai masalah lalu mencari jalan keluar dengan membaca buku cerita-cerita model ini salah satu yang bisa menjadi pilihan hiburan.

Menulis adalah jalan keluar. Cerita dreamy mungkin sebagian besar orang menganggap bahwa apa yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Namun, sadar atau tidak dengan menulis dan membaca cerita-cerita dreamy seperti itu banyak orang yang bisa sejenak meninggalkan realita kehidupan mereka yang semestinya. Menulis cerita dreamy memiliki seni tersendiri karena dengan cara ini saya bisa melihat sekaligus membayangkan visual adegan yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Jadi, menulis cerita dreamy adalah jalan keluar terbaik untuk saya. Saya akan terus bereksplorasi untuk membuat lebih banyak lagi cerita jenis ini. Seperti yang baru-baru ini akhirnya menjadi penghuni baru toko buku, yaitu Salma dan Fikar dalam Press Play!

cover depan press play

Teman Baru Jovan-Kezya

Tiga tahun sudah setelah karya perdana saya nge-hits di kalangan ABG. Jumlah oplah terjual setiap semesternya mulai menurun. Namun, pertanyaan akan kelanjutan cerita Kezya dan Jovan kerap masih saya terima beberapa kali.

Terjebak dengan keinginan membuat yang lebih baik lagi malah naskahnya mandek belum terselesaikan. Padahal naskah yang baik adalah yang selesai, bukan? Di tengah “keinginan” membuat sekuel kisah cewek biasa dan artis FTV itu saya malah tergoda untuk bikin sesuatu yang baru. Semua berawal dari pekerjaan baru yang saya tekuni saat itu, yakni di dunia digital yang fokus pada video online YouTube. Hhhmmm, dulu mana pernah saya tau kalau ada YouTuber yang bisa kaya raya lewat postingan vlognya. Mana pernah saya tau ada sepasang vlogger di London yang dijadiin patung lilin YouTuber pertama di Madame Tussauds. Mana pernah saya ngira kalau nontonin daily vlog mereka semengasyikkan itu. Nggak pernah saya mikir untuk nyari cara life’s hack sampe tips tentang relationship dari YouTube. Dan nggak pernah saya tau kalau YouTuber terbanyak subscribernya adalah Pew Die Pie yang postingan videonya beruba video gaming. Kalau nggak berkecimpung di pekerjaan yang baru ini saya nggak mungkin tau kalo ada duo kembar jacksgap yang bikin gemes dan karyanya bagus-bagus. 

   

Berawal dari itu semua saya kepikiran untuk buat satu naskah dengan karakter berlatar dunia video online. Bermodal pengetahuan saya yang masih sedikit tentang YouTube dan juga sekelumit kisah indah harapan saya yang gak bisa saya dapatkan di dunia nyata akhirnya jadilah draft tersebut dalam waktu 2 bulan. Di tengah saya menulis saya belum tahu akan mau kasih naskah itu ke mana. Tapi, ternyata sebelum naskah itu kelar ada satu editor yang tertarik menjemputnya. Prosesnya cepat sungguh cepat dan bulan Februari ini kisah Salma dan Fikar bisa ditemui di seluruh toko buku di Indonesia.

  

Ada harap bahwa Salma dan Fikar bisa sesukses Kezya dan Jovan dulu. Dicintai banyak orang dan tweet mereka bahkan ditunggu banyak followersnya. Namun, setelah vakum lebih tiga tahun pembaca kisah Kezya dan Jovan sudah tumbuh dan mungkin mereka enggan lagi membaca kisah yang serupa. Tapi, masa depan nggak akan ada pernah yang tahu. Seperti yang pernah saya dengar dari salah seorang sahabat bahwa “Kamu nggak akan pernah tahu kapan kamu berhasil.”

Apa yang terjadi sekarang adalah atas kehendak Tuhan. Semoga memang saya berjodoh dengan bulan Februari seperti Kezya dan Jova dulu yang terbit pada bulan yang sama seperti Salma dan Fikar sekarang. Bahkan lebih dari itu, setelah tiga tahun berlalu karya saya ternyata masih bisa dilengkapi oleh desain kover dari desainer yang sama seperti karya pertama saya dulu. Semoga Salma dan Fikar bisa juga bernasib sama dengan Kezya dan Jovan.

  
 Buat kamu semua yang mungkin ingin mencari kisah cinta yang nggak biasa di era digital seperti ini, silakan menuju toko buku dan toko buku online, temukan Press Play! Segera mulai tanggal 9 Februari 2016. 

[Rewiew] Dimi Is Married: Bikin Pengin Nikah

  
Sebelum masuk ke rewiew bukunya saya mau cerita dulu gimana sampai saya bisa baca buku ini. Salah satu teman saya posting di Path soal book chain. Iseng-iseng saya nyoba ikutan. Toh nggak ada ruginya kan bermodal satu buku dan nanti diikuti dengan buku-buku kejutan dari entah siapa. 2 hari setelah saya kirim buku ke seseorang yang ada di atas rantai saya, saya dapat paket berisi buku bercover putih ini. Saya girang bukan main karena ternyata iseng-iseng itu bisa terbukti nyata. 

Saya langsung baca buku ini. Awalnya sempat mengernyitkan dahi karena ceritanya classic, karakternya masih pakai sms dan blackberry untuk komunikasi. Ditambah nggak ada keterangan tahun cerita ini terjadi. Saya lihat di halaman paris buku ini. Oh, pantas saja cetakan pertamanya tahun 2010 dan yang saya punya itu adalah cetakan ke sekian plus dengan desain cover baru. Wah, saya makin penasaran. Buku ini termasuk bestseller dong kalo udah dicetak berulang-ulang sampai covernya ganti. 

Cerita ini dikisahkan dari dua POV tokoh utamanya Dimi dan Garda. Saya cukup salut di sini. Penceritaan dengan 2 POV cukup tricky karena rentan redudansi. Tapi, memang tidak ada atau saya kurang jeli rasanya penceritaannya cukup rapi walau penulis harus kerja dua kali. Menghadirkan suara karakter itu perlu effort yang cukup besar. 

Masuk ke jalan ceritanya. Dimi dan Garda ini adalah pasangan yang dijodohkan oleh orangtua mereka karena menurut orangtua Garda, usia Garda yang sudah menginjak 31 tahun sudah saatnya berhenti main-main. Bapaknya yang pengusaha kaya raya sudah pusing karena kelakuan anak sulungnya ini yang sering sekali bermasalah dengan banyak wanita. Alhasil dia dijodohkan dengan anak sahabat lama papanya, Dimi namanya. Alih-alih menolak, Garda justru nurut. Tapi, di balik itu semua dianpunya rencana lain. Menuruti keinginan ayahnya untuk memperlancar usahanya dapat kekuasaan di perusahaan milik ayahnya. Garda gak mau kedudukannya diserobot adiknya, Rio, kalau dia menentang perjodohan itu. Lain hal dengan Dimi. Dari awal ketemu Dimi udah naksir Garda walau dia sempat curiga dengan motif di balik perjodohan itu.

Singkat cerita mereka menikah. Garda menampilkan banyak kepalsuan dari sikapnya yang seolah-olah beneran sayang sama Dimi. Dan pada akhirnya situasi pun terbalik. 

Cerita ini mengingatkan saya pada sinetron tahun 90an yang judulnya Benci-benci Rindu. Dulu pemeran utamanya Bertrand Antolin dan Lyra Firna. Love hate relationship emang selalu terasa manis dan bikin gemes. Dan hal itu juga terurai dalam kisah Dimi dan Garda ini. Setelah Dimi menghilang karena dia merasa Garda nggak benar-benar mencintainya, yang Garda lakukan justru malah berusaha ngebuktiin bahwa Dimi itu penting buat dia. Manis deh pokoknya.

Karakterisasi dalam cerita ini cukup unik. Garda tampil dengan sosok cowok idaman para wanita sementara Dimi tipe cewek yang polos tapi hobi flora dan fauna. Konflik di cerita ini juga cukup solid. Nggak hanya berkisah tentang cintanya Dimi dan Garda. Tapi, ada yan lebih besar dari itu. Tentang Dimi yang cinta lingkungan sementara dia punya suami yang usahanya bergerak dalam produksi kertas. Jelas itu tabrakannya kelihatan banget kan dan bisa menimbulkan konflik batin antara dua karakter ini sepanjang cerita. Plot device yang bagus. 

Sayangnya penjelasan-penjelasan detil tentang karakter kebanyakan dipaparkan dengan menggunakan dialog dan pandangan karakter-karakter lain. Walaupun harusnya berpotenti dibuatkan adegan biar lebih terasa manis. Dan yang paling penting perubahan karakter-karakternya cukup terlihat dan bikib cerita ini tambah solid.

Over all, cerita ini walau klasik tapi boleh juga. Efeknya jadi bikin pengin nikah. Hehehehe… Apalagi punya suami yang cuek-cuek tapi perhatian gitu kaya Garda. :p

Anyway, untuk siapa pun yang kirim buku ini buat saya. Terima kasih banyak. Saya suka.

Apa Kabar Crush 2? 

  
Hampir 3 tahun berlalu semenjak buku ini muncul di toko buku seluruh Indonesia. Apa kabar Jovan? Apa kabar Kezya? Masih kah kalian tumbuh bersama? Seiring berjalannya waktu saya semakin gelisah karena kisah kalian yang saya janjikan akan berlanjut tak juga kunjung rampung. Saya rindu kalian. Namun, apa daya kelincahan saya merajut momen-momen indah untuk kalian sedikit berkurang. Kisah kalian berikutnya sudah saya mulai tapi sayang belum juga saya rampungkan. Banyak yang menunggu kalian. Entah mereka akan tetap setia menunggu kalian atau tidak. 

Selama menunggu apa yang ingin saya harapkan datang akhirnya saya mengisi lembar kosong dengan satu cerita lain yang ternyata bisa rampung lebih cepat. Februari depan akhirnya satu cerita terlahir lagi. Cerita yang hanya saya selesaikan kurang lebih dalam waktu satu setengah bulan. Entah bagaimana nanti petualangan mereka. Bisakah Salma dan Fikar menjadi idola seperti Jovan dan Kezya dulu? Saya pun belum bisa menjawab ini. Namun, satu yang pasti, selama proses penulisan anak saya berikutnya ini, tak henti saya dibuat jatuh cinta dengan sosok Salma dan Fikar. Saya harap kalian pun akan mengalami hal yang sama. Press Play bisa dinikmati Februari 2016 nanti. 

Lalu bagaimana dengan Crush 2? Tidak perlu khawatir. Sepasang muda-mudi yang jatuh cinta itu akan tetap ada. Kapan terbitnya? Saya belum bisa menjanjikan. Yang jelas saya masih berusaha untuk membuat mereka lebih hidup dan petualangan cinta Jovan dan Kezya harus lebih seru lagi. Semoga. Tahun ini? Tunggu saja. 

Sembilan Belas Desember Ke Dua Puluh Enam

Sembilan Belas Desember selalu jadi istimewa buat gue. Nggak terlalu istimewa sih sebenarnya. Tapi, di hari itu gue selalu dapet ucapan dari teman, kenalan, dan keluarga atas pertambahan usia gue. Nggak kerasa ya tahun ini sudah sembilan belas Desember yang ke-26 gue laluin. Tambah tua deh. Sedih. Tapi, bukan itu esensinya dari sembilan belas Desember yang gue dapatkan, melainkan introspeksi, koreksi, dan revisi buat diri gue sendiri di tahun berikutnya.

Satu hal yang gue garis bawahi sekali di sembilan belas Desember tahun ini. Gue masih punya orang-orang baik di sekeliling gue. Gue masih bisa ketemu mereka dan mendapatkan sesuatu yang seringkali nggak pernah gue duga sebelumnya. Terima kasih kepada semua yang telah membuat gue senyum di sembilan belas Desember gue tahun ini. Dan semoga di tahun-tahun sebelumnya gue masih bisa bertemu mereka dan bisa bertemu dengan sembilan belas Desember gue dengan petualangan yang lebih membuat senyum gue semakin lebar.

Gue mau cerita sedikit tentang sembilan belas Desember gue yang hanya berlangsung 24 jam. Masih gue ingat hari itu saat sembilan belas Desember gue yang ke dua puluh enam baru dimulai. Malam itu gue baru tiba di rumah lewat tengah malam sehabis gue main ke rumah salah seorang teman yang nggak jauh dari rumah gue memang. Gue sudah siap tidur dan handphone udah nggak gue sentuh-sentuh. Sampai tiba-tiba ada yang mengetuk pagar rumah gue. Dua orang kawan gue rela jauh-jauh malam-malam di tengah sempitnya waktu, mereka menyempatkan diri untuk kasih gue kejutan. Gue sungguh mengapresiasi mereka berdua karena gue tau perjalanan untuk sampai ke rumah gue itu nggak mudah. Rumah gue jauh. Banget. Gue terharu dan sangat berterima kasih atas semua yang mereka lakukan malam itu. Kikin, Bella, gue bukan orang yang pandai mengekspresikan kegembiraan gue. Tapi, sungguh gue seneng, terharu, dan sangat mengapresiasi kedatangan kalian malam itu. Terima kasih… Terima kasih…Bapering 1

Kalau ditanya soal rencana yang mau gue lakuin di sembilan belas Desember, jujur gue nggak pernah bikin plan apa-apa sejak dulu. Bahkan hari ulang tahun di keluarga gue bukan sesuatu yang spesial. Tapi, lagi-lagi teman di luar sana tahu caranya membuat hari itu jadi spesial. Siang di sembilan belas Desember gue cuma ikutin hari sebagaimana mestinya. Bahkan dengan randomnya hari itu gue malah mengiyakan permintaan adik gue untuk nemenin dia dateng ke kondangan. Setelah itu apa lagi yang dilakukan? Kami main ke mall favorit orang Bekasi sejak 22 tahun silam dengan tujuan adik gue yang tumbenan banget lagi kesambet setan dari mana mau ngebeliin gue kado katanya. Okelah, ini jelas gue manfaatkan dengan sangat baik. gue langsung request barang yang gue mau. Kami muter-muter mall entah berapa jam, pokoknya udah hampir sore. Sampai akhirnya saat gue lagi di Gramedia dua temen dari jaman pusing mikirin Sprache dan dari rumahnya di Rawamangun sampe sekarang dia jadi warga Bekasi tulen kucuk-kucuk dateng bawain kue. Dan terjadilah itu adegan tiup lilin di depan toko buku. Pas banget di depan deretan buku top 10. Hahaha… Semoga ya semoga itu pertanda buku gue berikutnya bisa ada di salah satu deretan rah buku itu. Hehehe… Terima kasih buat Marsha, yang selalu nggak mau disebut sebagai warga Bekasi, dan selalu bikin Bekasi seramai pasar malam. Terima kasih juga buat Shadika, warga Jakarta yang hijrah ke Bekasi dan langsung menobatkan Metropolitan Mall sebagai salah satu mall favorit lo di Bekasi. Anyway kata-kata lo di post it itu bener-bener bikin gue pengin jalan-jalan bertualang. Hahaha…

Kado Edisi 1

Sembilan belas Desember gue belum selesai sampai tiup lilin di depan Gramedia itu. Beberapa jam setelahnya pas kami sedang cari kue persiapan buat lamaran salah satu teman kami gue kembali dikejutkan sama satu video di grup kantor. Ucapan dari Eka Gustiwana!!! Langsung pas di depan kasir toko kue gue nggak bisa konsen sampe salah kasih duit. Hahaha… Terima kasih buat Annisa yang spesial mintain video 10 detik itu. Videonya nggak mau gue post di sini, biar spesial buat gue aja. Hahaha…

Nggak menyangka ternyata sembilan belas Desember gue bisa berlangsung begitu panjang. Senin di kantor di tengah acara syukuran kantor baru, lagi-lagi gue dapat kejutan dan dapat satu kue berlilin lagi. Terima kasih buat team Famous.ID! Kalian luar biasa! Terima kasih juga buat Kak Loni buat kado tumblernya. Pas banget warnanya ungu!

Tiup lilin

Mungkin ini akan jadi postingan terpanjang yang pernah gue buat di sini, karena memang sembilan belas Desember gue ternyata masih panjang dan nggak berakhir setelah 24 jam. Gue masih dapat kue berlilin di tanggal 23 Desember. Kali ini dari temen-temen satu jurusan dan satu angkatan gue pas kuliah. Malam itu kami ketemu, makan-makan, dan tukeran kado, sesuatu yang sudah dua tahun terakhir ini kita lakuin. Walau tahun lalu gue berhalangan untuk hadir. Ketemu mereka memang jarang, tapi sekali ketemu nggak berhenti ketawa karena dari 8 orang yang ada di dalam Groupies (begitu kita menamai grup chat kami) punya karakter masing-masing yang unik dan mengundang tawa. Yanda, Antye, Icha, Nia, Tara, Fika, dan Is terima kasih banyaaakkk. XOXO19 Desember mix

24 Desember itu ulang tahunnya Louis Tomlinson, semua Directioners tau. Tapi, siapa sangka di tanggal itu gue malah dapet Louis Tomlinson sebagai kado ulang tahun gue. Widi & Opi, terima kasih banyak. Satu sekolah sama Opi dari SMP, walau waktu SMP kita gak saling kenal dan mungkin kita berjodoh memang karena SMA satu sekolah lagi sampai akhirnya kita bareng-bareng terseok-seok mengejar mimpi demi bisa Jaket Kuning. Ngekos bareng, sampai wisuda barengan semua momen itu luar biasa. Opi salah satu saksi gimana jatuh bangunnya gue sampai akhirnya gue bisa sekarang. Sampai akhirnya mimpi kita satu-satu terwujud. Kenal sama Widi karena satu ekskul Pramuka bikin gue hepi terus temenan sama si sabar dan selalu punya cara buat bikin orang ketawa. Dan gue bersyukur sekali punya kalian. Udah nggak perlu lagi menghitung tahun kita temenan. Satu yang gue harap adalah semua itu untuk selamanya. mari kita menyambut tahun baru sama-sama. (Udah nggak sabar!) Makasih atas kado dan kue-nya. Gue hepi banget nggak terkira dapat Louis Tomlinson.

Sudah terlalu panjang gue mengungkapkan semua kebahagiaan gue karena sembilan belas Desember ke dua puluh enam ini. Yang pasti gue sangat bersyukur atas semua yang gue dapatkan. Terima kasih semua yang memeriahkan sembilan belas Desember gue ini. Terima kasih atas segudang ucapan dan doa yang dikirimkan buat gue. Meski masih belum ada “Kamu” yang gue tunggu-tunggu. Semoga gue bisa berjumpa dengan “Kamu” di sembilan belas Desember gue tahun depan.

greetings FIX

Sembilan Belas Desember… buat saya, kamu belum berakhir. Kamu terus ada menemani saya menuju titik sembilan belas Desember berikutnya. Sembilan belas Desember… mari temani saya berpetualang dalam 365 hari mendatang menuju “Kamu” yang saya tunggu-tunggu.

 

Aller Anfang Ist Immer Schwer, aber Es Ist Möglich 

  
Seneng banget rasanya pas hari Minggu lalu ada Gojek datang ke rumah mengantarkan buku ini. Rudy – Kisah Masa Muda Sang Visioner. Perjalanan buku ini sungguh panjang dan akhirnya kerja keras dari semua tim buku ini selesai dengan sangat bagus. Saya tahu betul bagaimana proses development sebuah buku. Apalagi nonfiksi, pasti tantangannya akan berbeda dengan proses development fiksi. Banyak yang harus dilakukan dari riset sampai menyulam hasilnya menjadi satu kesatuan yang baik. 

Awalnya mungkin terlihat sulit tapi semua itu mungkin. Sama mungkinnya seperti saya mendapatkan buku ini langsung dari penulisnya. Salah satu penulis yang saya kagumi sekaligus jadi orang pertama yang percaya bahwa saya bisa menulis. Padahal dulu waktu SMA saya cuma bisa ngefans sama karyanya, film horor Lentera Merah. Saya suka karena mungkin saya anak Pramuka yang hobi ikut jurit malam. Dan di Lentera Merah setengah filmnya bersetting kegiatan semacam Jurit Malam. 

Mbak Gina, terima kasih atas kiriman buku dan pesannya. I love it so much. Semoga aku bisa segera membalas kiriman bukunya. 

Terus berkarya dan berbagi cerita…