10 tahun yang lalu

  
Halo 13 oktober…

Akhirnya kita berjumpa lagi. Sudah sepuluh tahun berlalu dan aku masih ingat petang itu. Saat pertama kali aku bertemu dengannya. Saat pertama kali aku lihat senyumnya tepat di depan mata.

Tidak banyak yang berubah sejak saat itu. Aku masih dengan kehidupanku dan dia dengan kehidupannya yang di atas angin. Dan aku masih tak akan pernah mampu menggapainya.

Halo 13 Oktober…

Tidak terasa sudah 10 kali ulang tahunnya dan aku tak pernah absen mengirimkannya hadiah. Walau sering hadiah itu terlambat dia terima. Tapi, banyak yang tidak berubah. Aku masih tetap berharap semuanya dia simpan. Walau harapannya hanya setitik dan mungkin semua itu sudah berakhir di gudang.

Halo 13 Oktober…

Kita ketemu lagi dalam keadaan yang baik dan hari yang baik. Aku ingin mewartakan bahwa pesan pertamanya masih aku simpan. Meski aku sering lupa mengisi daya ponsel yang dulu kupakai. Sudah sepuluh tahun lalu. Aku harap sekarang masih bisa berfungsi. Meski sudah kurang maksimal.

Halo 13 Oktober…

Kini dia sudah bersama seseorang. Seseorang yang memang baik untuknya. Sementara aku di sini masih tetap sama seperti dulu. Hanya berharap tentangnya…

Halo 13 Oktober…

Semoga kita bisa berjumpa lagi di tahun mendatang… Entah dalam keadaan seperti apa. Yang pasti ku harap semua baik-baik saja…

Advertisements

[REVIEW] Emergency Couple: Cinta nggak boleh terburu-buru

Oh Jin Hye – Oh Chang Min

Entah sejak kapan trend drama Korea merebak. Saya salah satu yang terkena virusnya. Dulu, saya masih ingat sekali ketika teman saya merekomendasikan drama Full House. Awalnya saya bingung kenapa pada suka sementara Rain nggak begitu ganteng. Setelah nonton beberapa episode barulah saya mengerti kenapa drama itu begitu dicintai banyak orang. Beberapa tahun sebelum Full House saya juga pernah nonton Endless Love, dan drama itu cukup bagus. Ditambah won bin yang main. Jadi semakin tertarik. Hanya saja cerita di Endless Love lebih sedih feelnya sementara di Full House feelnya lebih ceria karena genrenya memang romcom. Anyway dua drama pertama yang bikin saya jatuh cinta itu pemain utama wanitanya adalah Song Hye Kyo yang katanya salah satu cewek paling cantik se-Korea. CMIIW…

Bertahun-tahun terlewati drama Korea semakin menjamur. Saya bukan tipe yang menonton semua judul ketika ada yang baru rilis. Saya pemilih. Dan yang saya pilih untuk ditonton pun adalah drama-drama yang pemain utama cowoknya kece. Hehehe…. Biar melelehnya nggak tanggung-tanggung.

Nah, postingan kali ini adalah salah satu drama yang saya pilih untuk ditonton. Selain karena rekomendasi teman saya, pemain utamanya juga menarik, Choi Jin Hyuk dan Song Ji Hyo. Judul drama berepisode 21 ini adalah Emergency Couple. Dari judulnya saja kita bisa nebak kalo setting drama ini adalah rumah sakit. Tapi, jangan salah biarpun settingnya rumah sakit dan bahkan unit gawat darurat, drama ini sarat akan adegan-adegan romantis dan manis.

Terkisah Oh jin Hye (song ji hyo) dan Oh Chang min (Choi Jin Hyuk) kawin lari saat mereka masih muda tanpa restu orangtua Oh Chang Min. Oh Chang Min yang sebetulnya masih jadi mahasiswa kedokteran akhirnya harus rela berhenti kuliah karena uang dari keluarganya diberhentikan karena dia nekad menikahi Oh Jin Hye. Kehidupan Chang Min dan Jin Hye ternyata jadi sulit setelah mereka menikah. Chang Min cuma jadi sales obat dan Jin Hye harus terima setiap hari dimarahi suaminya sampai dia mengalami stress. 

Suatu hari mereka ribut besar hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai. Enam tahun kemudian mereka bertemu lagi dan malah jadi teman sekelompok internship di unit gawat darurat. Ternyata setelah mereka berpisah masing- masing menata hidup barunya. Chang min lanjut sekolah kedokteran di Amerika. Sementara Jin Hye pun masuk sekolah kedokteran karena motivasi dia ingin tahu sehebat apa sih dokter itu. Jin hye mau buktiin ke keluarga Chang Min yang semuanya dokter kalau dia juga mampu dan nggak bisa direndahkan gitu aja.

Awalnya memang niat Jin Hye adalah pembuktian diri. Tapi, seiring berjalannya waktu akhirnya dia tau bahwa menjadi dokter bukan sesimpel itu. Ada yang lebih dia dapatkan setelah menjalani internship di instalasi gawat darurat.

Oke, segitu dulu untuk sinopsisnya. Sekarang saya mau menjabarkan kenapa saya suka sama drama ini. Pertama karena settingnya menarik. Drama ini cukup menggambarkan detil kehidupan di instalasi gawat darurat. Yang harus gantian jaga malam dan siap kapanpun pasien datang. 

Karakter di drama ini unik semua. Dari mulai tokoh utamanya sampai sampingannya. Jin hye yang meski udah jadi dokter kebiasaannya banyak minum dan mabuk masih tetap ada. Apalagi kalau dia lagi stress karena kelakuan Chang Min. Chang Min yang mesti galak begitu tapi dia tetap perhatian dan dia dokter yang cerdas. Ada juga karakter yang nyebelin banget tapi pada akhirnya keberadaan mereka jadi membantu Chang Min dan Jin Hye balikan. Itu pun selain karakter yang unik adegan yang dibuat juga bagus.

Yang kedua, dari segi cerita memang kebaca happy ending pasti. Tapi yang beda dari drama ini adalah journey antara Chang Min dan Jin Hye yang saling menemukan kembali satu-sama lain. Kalau di drama lainnya biasanya love-hate relationship terjadi dari awal dan di akhirnya baru happy ending. Tapi kalo di drama ini adegan awal justru menunjukkan kalau mereka saling mencintai dan nggak lama jadi saling benci lalu terakhir balikan lagi. 

Alasan ketiga saya suka drama ini karena penggambarannya tidak berlebihan. Dan pengadeganannya terlihat natural. Ada satu adegan yang saya suka banget. Adegan awal drama ini saat Chang Min genggam tangan Jin Hye lari menuju gereja dengan pakai baju pengantin lengkap. Di episode-episode terakhir adegan lari itu diulang lagi dalam konteks yang beda. Tapi, yang menyentuh di adegan lari kedua ada monolog Jin hye yang menjawab pertanyaan dari adiknya tentang apa yang bikin Jin hye suka sama Chang Min. Di adegan itu ada VO Jin Hye yang bilang “Ini… ini yang aku suka darinya.” Buat lengkapnya nonton aja deh. Pasti bikin meleleh. 

 
Satu adegan lagi yang melekat dalam benak saya sampai sekarang, yaitu adegan Jin Hye nempelin stetoscope ke dadanya dan masangin tungkai pendengarnya ke telinga Chang Min. Di adegan itu Jin Hye berusaha ngeyakinin Chang Min kalau “Ini loh gue serius kalau debaran jantung gue itu karena ada di deket lo.” Tapi akhirnya Chang Min malah nanggapinnya bercanda.

Terakhir saya suka drama ini karena soundtracknya bagus-bagus. Hehehe…

Sudah panjang saya bahas tentang yang saya suka. Sekarang saya mau jabarin yang nggak saya suka dalam drama ini.

  
Ya namanya juga drama sebetulnya nggak jauh sama sinetron. Masih ada adegan yang janggal. Salah satunya adalah ada adegan entah Chang Min atau Jin Hye saya lupa, bisa denger percakapan orang lain yang jaraknya cukup jauh. 

Yang kedua adalah chemistry chief gook dan Jin Hye nggak keliatan. Maksudnya mungkin pengin digambarin Chief Gook jatuh cinta sa Jin hye. Tapi, saya nggak bisa dat feel itu sepanjang episode. Nggak seperti Yu min yook di Full House yang kelihatan banget suka sama Han Ji Eun. Kan bisa bikin greget pas nonton. Bisa bikin orang ngedukung Chief Gook jadian sama Jin Hye.
Hah… Panjang juga saya berkoar soal Emergency Couple. Sementara ini dulu yang kepikiran. Kalau ada lagi nanti saya tambahin kapan-kapan. Hehehe…

Buat yang belum nonton cobain deh nonton drama ini. Saya pun telat nontonnya karena drama ini udh booming sejak 2014.

  

Sesuatu yang (seharusnya) diungkapkan

Salah seorang kawan terus menerus bertanya beberapa bulan terakhir akan sebuah balasan rasa yang masih abu-abu. Pertanyaan berputar setiap hari tentang terbalaskah perasaannya, tentang adakah dia di hati dan pikiran sasaran hatinya? Namun, bertanya pada yang awam tak akan pernah tepat jawabannya. Satu yang pasti yang harus dilakukan hanya bertanya kepada objek rasa itu datang. Tanpa itu, pertanyaan akan berputar tanpa henti.

Ada kalanya ketika hati tak sanggup lagi memendam, tumpah ruah kata dan rasa itu menjadi hal yang di luar dugaan. Hingga resiko tak lagi menjadi bahan pertimbangan. Yang diinginkan hanya satu, “Dia”. Merasakan sesuatu yang berbeda dan mengharapkan balasan yang hampir sama tentu adalah hal lumrah dalam hidup. Namun, seperti yang kita semua tahu, kadang harapan tak seindah kenyataan. Menebak-nebak hasil bukan lagi jalan keluar. Efek berikutnya tak bisa dialihkan. Butuh waktu. Butuh tenaga. Butuh kemampuan yang lebih banyak untuk menyingkirkan bayang dan kenangan yang ada.

Setelah diungkapkan ternyata hal yang muncul adalah sesuatu yang lebih sulit lagi. Menghindari rasa sakit. Bukan hal yang mudah. Tapi, ketika sudah berani ada di satu titik keharusan mengungkapkan semua, itu sudah lebih dari cukup. Sungguh saya salut dengan yang telah dia lakukan. Berani mengatakan dengan tanpa peduli jawaban yang akan keluar adalah sebuah pencapaian besar. Dan hingga saat ini saya belum mampu sampai pada titik itu. Dan lebih memilih membiarkan rasa itu gugur perlahan dalam sebuah ketidakpastian dan kehilangan semu yang tanpa perjuangan. Terlalu takut dengan akhir yang menyakitkan kemudian memilih berdiri terus di tempat yang sama tanpa mengerti lagi apa yang akan terjadi jika satu langkah diambil. Belum saatnya. Itu terus yang selalu ditekankan. Belum siap kehilangan, alasan klise itu lagi yang menjadi tameng ketakutan.

Teruntuk kawanku… Selamat kawan, meski sedih tak berujung yang kini kamu rasakan. Setidaknya kamu harus bisa bangga pada dirimu sendiri, satu langkah yang kamu ambil dengan penuh keberanian. Meski harus merasa kehilangan.

[REVIEW] Paper Towns: A Journey to Find Miracle

Paper Towns - John Green

Paper Towns – John Green

Penulis : John Green

Halaman: 305 halaman

Penerbit: Speak

Tahun terbit : 2009

Mungkin saya adalah salah satu yang terlambat menikmati karya-karya John Green. Tapi, tak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baru dan untuk belajar mengenali banyak karya. Karya pertama John Green yang saya baca adalah The Fault in Our Stars, novel yang cukup fenomenal karena selain ceritanya mengharukan, kemasan dari drama percintaan antara dua orang penderita kanker adalah hal yang belum banyak diangkat dengan gaya yang menarik seperti yang Green persembahkan.

Oke. Untuk review kali ini saya nggak bakal bahas tentang TFIOS tentunya. Sesuai dengan judul posting ini, saya akan bahas tentang buku Green yang berjudul Paper Towns. Adalah Margo dan Q, dua karakter dalam cerita ini yang terlibat dalam sebuah perjalanan pencarian jati diri di usia mereka yang baru akan meninggalkan bangku sekolah menengah atas. Bagi Q, Margo adalah keajaibannya. Kehadiran Margo yang sering misterius dan menimbulkan tanda tanya bagi Q tidak mengurungkan Q untuk tetap menyukainya dan tetap teguh pada pendiriannya dalam usaha pencarian Margo kembali ketika suatu hari Margo menghilang tanpa clue yang jelas. Namun, sedikit demi sedikit dengan bantuan para sahabatnya, Q akhirnya lambat laun bisa menemukan Margo dengan caranya sendiri, mengumpulkan semua clue yang ada.

Soal plot mungkin saya nggak akan bicara banyak. Lebih baik kalian sendiri saja baca biar nggak penasaran. Bagus kok ceritanyam percaya deh! Nah, kalau bukan plot yang ingin saya jabarkan jadi review kali ini point apa yang mau saya bahas? Oke, langsung saja yang pertama adalah, kalimat pembuka dalam prolog. Banyak yang bilang bahwa paragraf pembuka sebuah cerita adalah paragraf penentu kesuksesan cerita tersebut meraih perhatian pembaca untuk tertarik membaca halaman berikutnya. Nah, buku ini salah satu yang punya paragraf pembuka yang bagus. Saya jatuh cinta sekali dengan paragraf pertamanya ini. Berikut kutipannya:

“The way I figure it, everyone gets a miracle. Like, I will probably never be struck by lightning, or win a Nobel prize, or become the dictator of a small nation in the Pacific Islands, or contract terminal ear cancer, or spontaneously combust. But if you consider all the unlikely things together, at least one of them will probably happen to each of us. I could have seen it rain frogs. I could have stepped foot on Mars. I could have married the queen of England or survived months at sea. But my miracle was different. My miracle was this out of all the houses in all the subdividions in all of Florida, I ended up living next door to Margo Roth Spiegelman.”

Yup! Kalimat ini cukup menggambarkan bagaimana posisi Margo di mata Quentin. Cukup bikin wow, betapa spesialnya si Margo ini ya sampai dia dianggap sebagai sebuah keajaiban. Tentu bikin penasaran dong agar bisa baca halaman selanjutnya? Ya, itu yang saya rasakan waktu pertama baca kalimat pertama itu. Saya bertanya-tanya siapa sih ini si Margo. Dan ternyata benar, Margo punya banyak kejutan untuk Quentin dan pembaca. Cewek ini misterius dan penuh petualangan. Cukup berani dan juga masih labil. Tapi, luar biasa dia punya pengaruh begitu besar untuk Q. Oke… nggak akan ada habisnya kalau saya bicara panjang lebar soal relasi Margo dan Q.

Hal menarik lainnya yang dapat saya temui dalam buku ini adalah banyak sekali quotes yang bisa menginspirasi atau setidaknya menjadi refleksi diri. Saya akan sebutkan beberapa quotes yang saya temui dalam buku ini:

“That’s always seemed so ridiculous to me, that people would want to be around someone because they’re pretty. It’s like picking your breakfast cereals based on color instead of taste.”

“But isn’t it also that on some fundamental level we find it difficult to understand that other people are human beings in the same way that we are? We idealize them as gods or dismiss them as animals.”

“How can you seperate those things though? The people are the place is the people.”

 “What a treacherous thing to believe that a person is more than a person.”

Dan masih ada banyak lagi quotes yang terselip di buku ini. Yang saya suka adalah, setiap quotesnya terlihat sederhana tapi bermakna cukup dalam. Green menampilkan sebuah kedewasaan yang dalam setiap karakter yang dia ciptakan di dalam setiap ceritanya. Bukan karakter remaja yang menye-menye dan terhanyut dalam kesedihan soal cinta. Karena dalam setiap ceritanya ditunjukkan bahwa hidup lebih besar dari itu.

Sempat saya sedih karena menduga kalau Paper Towns movie tidak akan masuk ke Indonesia. Tapi, ternyata akhir bulan ini saya bisa menonton Paper Towns secara visual. Masih penasaran dengan Cara Delevigne apakah dia bakal sukses membawakan karakter Margo? Kita lihat saja filmnya nanti.

[REVIEW] Dilan Bagian Kedua: Ternyata Dilan juga bisa drama

IMG_1070_1

Penulis : Pidi Baiq

Tahun Terbit: Juli 2015

Penerbit : Pastel Books – Mizan

Jumlah Halaman : 344 halaman

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.” (Pidi Baiq)

Tahun lalu atas rekomendasi teman saya, saya membaca buku Dilan yang pertama. Cerita dijabarkan dari sudut pandang Milea. Di buku pertama cerita berkisar tentang kehidupan Milea yang baru pindah ke Bandung dan usaha PDKT Dilan yang sangat-sangat unik. Saya suka. Sangat suka. Lucu dan bikin senyum-senyum sendiri. Nah, tapi di review postingan kali ini saya nggak akan bahas buku pertamanya. Saya mau bahas buku yang kedua, karena baru saja saya selesai baca. Hehehe….

Waktu tau bahwa Dilan yang kedua akan segera terbit saya nggak sabar untuk beli. Pengin tahu kelanjutannya Dilan dan Milea setelah mereka jadian bagaimana. Tapi, sayangnya mungkin karena ekspektasi saya terlalu besar dengan buku ini jadilah ketika sudah waktunya terbit dan saya langsung beli bahkan yang edisi khusus bertandatangan penulisnya, dan langsung saya baca buku itu ternyata eh ternyata, ekspektasi saya terlalu berlebih.

Di dalam buku kedua ini terlalu banyak drama dalam hubungan Dilan dan Milea. Dilan masih sering berantem dan masih seperti di buku pertama. Permasalahan yang dialami Dilan lebih pelik di buku kedua ini. Sampai-sampai dia pernah dipenjara. Kurang banyak kejutan di dalam buku kedua ini. Hubungan Milea dan Dilan terasa hambar. Konflik yang timbul juga sebetulnya muter di situ-situ saja hingga terakhir ternyata Dilan pun tidak berubah. Mungkin memang ini yang ingin ditunjukan oleh penulisnya tentang bagaimana menerima seseorang apa adanya itu adalah hal yang penting. Menerima tanpa menuntut perubahan dari seseorang yang disayang untuk jadi lebih baik. Point yang saya dapatkan sih dari buku ini adalah itu. Koreksi saya jika saya salah ya…

Hhmm… selain full of drama, yang bikin cerita ini terasa flat adalah cara penulisannya yang terlalu banyak pengulangan yang itu-itu saja. Tentang bagaimana penggambaran Milea merindukan Dilan. Hanya diucapkan ya begitu, “Dilan, kamu di mana? Aku rindu.” Ada banyak kalimat seperti ini di dalam buku ini. Sepanjang cerita Milea pun banyak terbantu oleh orang-orang di sekitarnya. Sehingga membuat situasi dalam cerita jadi flat. Dan lagi-lagi saya ingin kembalikan kepada tujuan penulisnya membuat cerita seperti itu, mungkin memang itu yang ingin dihadirkan dalam buku kedua ini.

Anyway, sebagai sebuah buku cerita tentang anak SMA, ini salah satu buku yang menghibur dan cukup ringan dengan pilihan kata yang memang yang dipakai sehari-hari. Soal lokalitas yang diangkat dalam buku ini jangan ditanya sangat terasa Bandungnya dan Sundanya, walau saya nggak pernah tinggal di Bandung atau bukan orang Sunda. Tapi, cukup bisa terwakilkan imajinasi saya tentang Bandung di cerita ini.

Denger-denger akan ada lagi serinya dari versi sudut pandang Dilan. Nah, saya nungguin buku itu terbit. Masih ingin tahu apa yang Dilan pikirkan tentang Milea.

Tuhan, aku ingin…

Tuhan… Aku ingin bercerita

Tentang dia yang hadir tiba-tiba

Tuhan… Aku ingin bercerita

Tentang dia yang pergi tanpa kata

Tuhan… Aku ingin bercerita 

Tentang dia yang selalu ada cerita

Cerita yang tak pernah terselip tentangku di antara beribu katanya

Tuhan… Aku ingin bercerita 

Tentang cepatnya dia berlalu meninggalkan rasa

Tuhan… Aku ingin bercerita

Tentang dia yang tak pernah menyimpan namaku dalam hatinya

Tuhan… Aku ingin bercerita 

Tentang irinya aku dengan wanita yang selalu disebut dalam setiap pesannya

Tuhan… Aku intin becerita

Tentang tersiksanya aku karena rindu kepadanya
Tuhan… Kali ini aku ingin bertanya

Sedang apa dia sekarang? 

Tuhan… Aku ingin bertanya

Apa maksud kehadirannya?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Tentang alasan dia pergi?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Sempatkah aku hadir dalam pikirannya?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Tentang siapa yang ada di hatinya saat ini?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Sebegitukan tak berartinya aku untuknya?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Masihkah aku ada kesempatan untuk bisa bersamanya?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Betulkah asumsiku terhadapnya?

Tuhan… Aku ingin bertanya

Salahkah jika aku mengharapkannya?

Tuhan… Engkau adalah tempat meminta segalanya

Kali ini aku ingin meminta…

Bolehkah aku merasakan momen-momen indah ketika ada dirinya?

Tuhan… Aku ingin meminta

Sebongkah hatinya yang terisi tentangku

Tuhan… Aku ingin meminta 

Tolong sampaikan sejuta rinduku untuknya

Tuhan… Aku ingin meminta

Mohon beri kesempatan untuk aku singgah di hatinya

Tuhan… Aku ingin meminta

Tolong izinkan aku untuk bersamanya

Tuhan… Aku ingin dia

[REVIEW] Something Blue: “Everyone deserves a second chance”

Something Blue Novel

Author: Emily Giffin

Publisher: St. Martin’s Paperbacks

Pages: 374

Published: 2005

Buat yang pernah nonton film atau baca novel “Something Borrowed” mungkin tidak akan asing dengan novel ini. Atau mungkin ada yang belum tahu bahkan bahwa cerita Rachel, Darcy, Dexter, dan Ethan tidak berhenti hingga Dex dan Rachel akhirnya bersama dan Rachel dan Darcy akhirnya bermusuhan. Episode kehidupan mereka berlanjut di buku ini, “Something Blue”. Banyak kejutan yang bisa didapatkan ketika membaca novel ini. Sudut pandang tidak lagi dilihat dari Rachel. Gantian dong ya, Rachel dan Dex sudah bahagia bersama jadi cerita mereka kalau pun diceritain di sekuelnya akan bikin mupeng aja dengan mesra-mesraan pasangan baru itu. Jadi, di dalam buku ini sudut pandang diambil dari sisi Darcy? Ya, Darcy si cewek egois itu? Nyebelin? Nanti dulu. Setelah baca keseluruhan kalian pasti sama seperti gue. I’m so in love with Darcy.

Di buku “Something Blue” ini Emily Giffin memberikan cerita yang sungguh nggak kalah serunya dengan buku “Something Borrowed”. Malah untuk gue sendiri yang sudah baca keduanya, I admit that I love this book more than “Something Borrowed”. Kenapa gue bisa bilang begitu? Berikut gue jabarkan sedikit beberapa point yang menurut gue spesial dari buku ini.

  1. Karakter

Kalau dari segi karakter, kita sudah kenal Darcy sejak di “Something Borrowed”. Cewek ambisius, egois, nggak mau kalah, dan dengan segala sifat nyebelinnya yang membuat Darcy dipandang negatif sepanjang cerita “Something Borrowed”. Nah, di dalam “Something Blue” ini kalau kalian baca pasti akan berubah pikiran seratus delapan puluh derajat. Darcy memang bitch di awal karena memang begitu adanya dirinya namun sepanjang cerita “Something Blue” ini dia akan mengalami segala hal yang membuatnya berubah selangkah demi selangkah.

Cobaan demi cobaan dia lewati sendirian. Cobaan yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri harus dia tanggung dan dia selesaikan dengan caranya sendiri. Sebagai karakter Darcy tumbuh dan berubah ke arah yang lebih baik sepanjang cerita. Dengan segala yang dia hadapi selama dia menenangkan diri di London bersama Ethan ada banyak pelajaran hidup yang membuat Darcy menjadi lebih dewasa. Perubahan tersebut membuat Darcy sangat loveable sebagai seorang karakter. You will fall in love with her along the story. Apa yang terjadi dan apa yang Darcy lakukan dalam penyelesaian setiap masalahnya membuat Darcy seperti karakter yang benar-benar hidup dan bisa membuat gue sebagai pembaca peduli dengannya dan akan setia mengikuti cerita hingga halaman terakhir.

Selain Darcy, ada lagi tokoh lainnya yang bisa bikin meleleh cewek-cewek yang baca buku ini. Ethan, sahabat Darcy dan Rachel, seorang penulis yang tinggal di London. Ethan di buku sebelumnya memang kurang banyak muncul. Tapi, di buku ini Ethan jadi tokoh utama pria. Dan karakter ini lebih menarik dari Dexter. Dari dialog yang terjalin, dari sikap Ethan yang dideskripsikan dari sudut pandang Darcy, terlihat sekali bahwa Ethan ini adalah cowok yang sangat-sangat baik dan bijaksana. Ketegasan Ethan saat awal menolak Darcy tinggal di apartemennya di London juga salah satu pesona karakter ini. Terlebih saat akhirnya Ethan luluh dan mengizinkan Darcy yang sedang hamil itu untuk tinggal di rumahnya, sikapnya yang kayak gini gimana nggak bikin meleleh. Siapa yang nggak mau punya pasangan seperti Ethan yang sungguh-sungguh cerminan seorang Family Man idaman. Selain Darcy, di buku ini pun Ethan juga mengalami perubahan tersendiri dalam kehidupannya. Ada journey yang dia lewati sepanjang cerita. Ada luka lama yang Ethan punya kemudian perlahan bisa dia hadapi.

Sudah cukup pembahasan mengenai karakter. Penasaran dengan dua karakter ini. Penasaran dengan keduanya. Silakan baca bukunya.

  1. Plot

Secara alur, cerita yang disuguhkan dengan sudut pandang orang pertama ini sangat asik dan mudah diikuti. Tidak berbelit meski backstorynya terselit di beberapa adegan. Namun, masih tetap diceritakan dengan alur yang maju dengan tuturan si karakter “Aku” –Darcy.

Adegan-adegan yang disuguhkan sungguh tersulam dengan baik dan sangat dinamis mengikuti si karakter. Dialog terjalin dengan sangat bagus dan terasa riil. Relasi antar karakternya pun dikemas dengan baik di tiap adegan melalui selipan-selipan deskripsi singkat. Hal tersebut bisa membuat pembaca tahu seberapa dekat si karakter tersebut memiliki relasi dengan yang lainnya. Dalam hal ini tentang relasi Ethan dan Darcy.

Beberapa adegan manis tanpa kata-kata yang berlebihan pun banyak ditemui dalam cerita ini. Seperti saat Darcy minta tidur di kamar Ethan. Ethan sempat menolak namun dengan segala cara Darcy akhirnya berhasil merayu Ethan. Simpel dan cukup manis. Terlebih di suatu saat ketika Darcy mulai menyadari dia menyukai Ethan, dia ingin memberikan kejutan pada Ethan dengan cara merapikan apartemen Ethan sebelum dia pulang.

Demikian dari segi plot. Tidak akan habis kalau gue teruskan membahas tentang ini. Dan akhirnya nanti bisa jadi spoiler. :p

  1. Sudut pandang

Sudah jelas dari awal dikatakan bahwa sudut pandang diambil dari sudut pandang Darcy. Yang spesial dan menonjol adalah, Emily Giffin bisa mengkondisikan cerita bagaimana feel Rachel tidak terasa sama sekali dari sudut pandang ini. Suara yang timbul dari penuturan cerita Darcy ini sungguh terasa itu adalah suara Darcy. Pikiran pembaca langsung dibawa masuk ke dalam karakter Darcy melalui caranya bertutur dan penggunaan diksi yang sungguh ceplas-ceplos dan cenderung sinis di awal.

  1. Setting

Setting awal cerita ini masih sempat pakali setting Amerika saat Darcy masih bersama Marcus. Namun, ¾ ke belakang setting yang tampil adalah London. Yang menarik dari cerita ini adalah setting London tidak hanya diceritakan sebagai setting tempat semata. Namun, London terasa hidup di sini karena Darcy menceritakan tentang orang-orang London yang dia temui, pusat perbelanjaan, harga-harga barang, dan bagaimana caranya beradaptasi dengan kota tersebut yang sungguh berbeda dengan kota asalnya. Hal ini tentunya membuat London tidak hanya muncul sebagai setting semata yang ketika setting diubah menjadi tempat lain akan tidak menjadi masalah. Tapi, dengan mengikuti cerita hingga akhir kita akan tahu kenapa memang harus di London karena London dan orang-orang yang Darcy temui itu juga akan menjadi pengantar perubahan karakter Darcy ini.

  1. Moral

Semua cerita memiliki moralnya masing-masing. Dalam cerita ini apa yang bisa diambil adalah tentang sebuah kesempatan kedua. Tentang bagaimana memaafkan diri sendiri dan lingkungan sekitar untuk dapat menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Tidak menghindari masalah namun menyelesaikannya dengan cara sendiri dan berhenti menyakiti satu sama lain dengan cara jujur dan berani mengakui kesalahan. Penyesalan selalu datang belakangan, namun di balik itu semua Darcy berhasil mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya. Yang sempat hilang dari dirinya akhirnya kembali ketika dia sudah bersedia berdamai dengan semuanya.

Kira-kira seperti itu review yang mungkin bisa kalian anggap gue sangat sotoy, hehehe. Terakhir untuk menutup review ini gue memberikan 4 bintang dari 5 bintang untuk buku ini. Gue berharap sih novel ini bisa diadaptasi ke film seperti buku prekuelnya. Pengin banget liat John Krasinski beradegan manis sama Kate hudson.

Anyway, Terima kasih sudah luangkan waktu untuk baca review yang panjang ini. Kalau setelah baca review ini kalian jadi penasaran dengan bukunya, mending buru-buru ke toko buku deh abis itu langsung dibaca. Hehehe…

Anyway, Terima kasih sudah luangkan waktu untuk baca review yang panjang ini. Kalau setelah baca review ini kalian jadi penasaran dengan bukunya, mending buru-buru ke toko buku deh abis itu langsung dibaca. Hehehe…

The Dutch Windwheel: London Eye versi Rotterdam

Siang itu di perpustakaan kampus.

“Rin, aku mau tanya. Apa yang pertama kali muncul di pikiranmu kalau kusebut kata Belanda?” Zeva bertanya pada sahabatnya suatu siang ketika mereka terjebak hujan selesai menyelesaikan mengetik skripsinya siang itu.

“Kincir angin. Kenapa emang? Kok tumben banget ngasih pertanyaan kayak gitu?”

Zeva tersenyum dan mengangguk dua kali sambil terus menurun naikkan tetikus laptopnya. Matanya tak berpaling dari layar laptop. Satu persatu kalimat yang tampil di layar laptopnya dia baca dengan saksama.

“Lagi baca apaan sih? Senyum-senyum gitu?” Rina melongok ke layar laptop Zeva.

“Belanda bikin inovasi baru lagi,” ucap Zeva semringah. “Aku barusan dapat artikel bagus itu di internet,” lanjutnya menunjuk ke arah layar laptop. “Makanya tadi kutanya apa yang kamu pikirin kalau kusebut kata Belanda.”

“Emang apa sih isi artikelnya?” kening Rina berkerut.

“Hampir nyerempet sama yang kamu bilang tadi. Ini ada inovasi baru lagi yang lagi belanda buat. Masih sodaraan sama kincir angin. Nih, aku bacain biar kamu nggak penasaran.”

Beberapa kota di dunia memiliki satu ikon atau juga simbol beruba bangunan yang digunakan sebagai objek pariwisata yang menyediakan fasilitas bagi para pengunjungnya untuk bisa melihat seluruh kota dari ketinggian. Salah satunya seperti Singapore Flyer, The Roue de Paris, atau London Eye. Ketiga ikon tersebut menjadi objek wisata wajib bagi para turis yang berkunjung ke kota masing-masing. Rotterdam sepertinya tidak mau ketinggalan. Saat ini di kota pelabuhan di negara yang sebagian besar daratannya berada di bawah permukaan air laut itu telah dilakukan proses pembangunan sebuah bangunan berarsitektur futuristik yang dinamakan Dutch Wind Wheel.

Dutch Wind Wheel berbeda jauh dengan konsep yang diusung oleh ferris wheel-ferris wheel raksasa di kota lain di dunia yang sudah disebutkan sebelumnya. Hanya saja konsepnya lebih unik karena bangunan setinggi 174 meter ini merupakan inovasi baru dari ikon khas negara Belanda yang selama ini kita kenal, yakni kincir angin. Dalam perencanaan yang dipublikasikan di beberapa situs, Dutch Wind Wheel ini terdiri dari dua bangunan yang berbentuk lingkaran di tengah perairan Rotterdam. Fondasi bangunan sengaja ditanam di bawah air sehingga bangunan berbentuk lingkaran dan dilapisi dengan kaca dan baja tersebut terlihat seakan mengambang di atas permukaan air. Seperti halnya London Eye, 40 kabin yang disediakan di dalam Dutch Wind Wheel ini juga dapat berputar di atas rel roller coaster yang akan mengantarkan para pengunjung menuju titik teratas untuk melihat kota Rotterdam dari ketinggian. Selain itu di sana juga terdapat 72 apartemen dan 160 kamar hotel lengkap dengan fasilitas restoran dan fasilitas rekreasi lainnya. Uniknya lagi bangunan tersebut bukan hanya menawarkan fasilitas untuk berekreasi saja tetapi juga merupakan bentuk inovasi terbaru lagi dalam hal perbaharuan energi terutama pembaharuan energi.

Tata ruang The Dutch Windwheel

            Tata ruang The Dutch Windwheel

Fasilitas yang bisa dinikmati oleh para pengunjung

Fasilitas yang bisa dinikmati oleh para pengunjung 

Ferris wheel untuk rekreasi, kincir angin, dan penghasil energi baru? Semua pasti masih bingung dengan apa sebenarnya yang disebut dengan Dutch Wind Wheel ini. Seperti yang kita ketahui, sebuah kincir angin pasti memiliki satu buah baling-baling besar yang berputar karena hembusan angin yang kuat – tak perlu diragukan lagi kekuatan angin di Belanda sudah terkenal kuat untuk menggerakkan kincir angin tersebut- dan dari perputaran kincir angin tersebut turbin bisa berfungsi dan terciptalah energi listrik. Konsep seperti ini sungguh sudah lama dimanfaatkan Belanda dan juga negara lainnya. Namun, ternyata kincir angin berbaling-baling penghasil tenaga listrik ini masih bisa dimodifikasi lagi ke dalam bentuk yang lebih efisien dan juga tanpa suara perputaran baling-baling, serta gangguan bagi para burung yang melintas di sekitarnya.

Pemandangan kota terlihat dari atas Dutch Wind Wheel

Pemandangan kota terlihat dari atas Dutch Wind Wheel

Adalah teknologi EWICON (Electrostatic WInd energy CONverter), sebuah hasil penelitian yang dikembangkan di konsorsium oleh TU Delft (Johan Smit and Dhiradi Djairam) dan Wageningen University dalam rangka program inovasi yang dilakukan pemerintah. Teknologi EWICON ini memanfaatkan titik-titik air yang terbawa angin sebagai pemicu perubahan energi kinetik menjadi mekanik. Titik-titik air dan angin tersebut berhembus dari kutub negatif ke positif melalui lubang besar dengan tabung-tabung baja di tengah lingkaran bangunan Dutch Wind Wheel ini yang kemudian pada akhirnya mereka berubah dan keluar menjadi energi positif yang dapat digunakan sebagai energi listrik. Hasil inovasi ini sudah dipamerkan di lingkungan TU Delft. Ada satu buah model EWICON di letakkan di salah satu sudut kamus tersebut. Masih merasa bingung dengan cara kerja EWICON ini? Untuk lebih jelasnya ilustrasi proses perubahan energi tersebut dapat dilihat dalam video berikut ini:

Bisa dibayangkan betapa berbedanya proses pembaharuan energi ini dan bentuk kincir yang sudah lama kita ketahui. Sangat berani, kan? Ada pun bagian lainnya yang dimanfaatkan oleh pengembang proyek ini – perusahaan BLOC, DoepelStrijkers, Meysters, dan MBTC Holland Marketing – yakni di sekeliling sisi bangunannya dilapisi panel PVT (photovoltaic thermal hybrid solar) atau panel surya yang juga berfungsi sebagai pembangkit energi yang lagi-lagi ramah lingkungan dan juga penampungan air hujan – yang bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan di dalam gedung. Dutch Wind Wheel ini pun juga dilengkapi dengan pengolahan sisa pembuangan yang nantinya juga dapat menghasilkan energi biogas.

Dutch Wind Wheel, bangunan futuristik yang bersinergi dengan lingkungan

Dutch Wind Wheel, bangunan futuristik yang bersinergi dengan lingkungan

Bagaimana? Menarik sekali kan inovasi terbaru yang akan segera bisa dinikmati di Rotterdam ini? Meski memang waktu yang diperkirakan proyek ini akan rampung sekitar tahun 2025 tapi waktu tersebut tidak akan terbuang sia-sia karena nantinya akan menghasilkan sebuah bangunan mewah masa depan yang modern dan ramah lingkungan untuk Belanda dan juga untuk kota pelabuhan Rotterdam.

“Seru banget ya kalau misalnya proyek itu udah jadi. Keren banget. Semoga aja Indonesia juga bisa belajar dari kreativitas Belanda yang terus menerus berinovasi,” komentar Rina selesai Zeva menceritakan isi artikel itu.

Zeva menanggapinya dengan anggukan.

“Pasti lebih romantis juga bisa honeymoon di sana,” guman Rina asal.

Honeymoon, honeymoon. Mending cari pacar dulu, baru mikir honeymoon.”

“Ih, Iya. Iya,” wajah Rina langsung cemberut. “Dasar, Joykiller! Huh…”

_____________________________________________________________________

Sumber gambar:

http://thedutchwindwheel.com/

Sumber video:

https://www.youtube.com/watch?v=tqksCHWROBU

Referensi Artikel:

http://www.ewi.tudelft.nl/en/current/ewicon-wind-energy-converter-unveiled-wind-mill-without-moving-parts/

http://www.smithsonianmag.com/innovation/this-dutch-wind-wheel-part-green-tech-showcase-part-architectural-attraction-180954377/?no-ist

http://www.ewi.tudelft.nl/en/current/ewicon-wind-energy-converter-unveiled-wind-mill-without-moving-parts/

http://www.mnn.com/earth-matters/energy/blogs/in-rotterdam-a-wind-turbine-thats-also-an-apartment-complex-and-an

http://www.listrikindonesia.com/pemanfaatan_energi_angin_di_belanda_belum_optimal_123.htm

http://www.zmescience.com/ecology/renewable-energy-ecology/dutch-windmill-energy-16022015/

Luar Lingkaran

Ibu jarinya terus dia gerakkan di atas layar sentuh ponselnya. Akhir-akhir ini Mia jadi rajin buka sosial media yang punya kapasitas jumlah teman itu. Sejak hari itu Mia jadi berubah dari sebelumnya yang tak peduli menjadi peduli dengan akun sosmednya. Saat pertama membuat akun itu tiga bulan lalu dia bahkan baru mengentri 3 kali. Selebihnya dia hanya menerima undangan pertemanan dan melihat postingan teman-temannya dan sesekali memberi tanda emoticon. Hari itu masih dia ingat, hari Selasa pertama di bulan november, Raka menerima undangan pertemanannya. Hanya dengan alasan sederhana itu, Mia kini jadi rajin menampakkan diri di sosial media. Entah dia posting lagu yang didengarnya, check in di tempat yang dia kunjungi, atau sesekali mengentri foto dirinya.

Semua hanya karena Raka. Seperti sore itu. Sambil jalan menuju halte bus di kampusnya dia terus saja menunduk memeriksa siapa saja yang sudah melihat postingannya. Deretan foto kecil-kecil itu dia teliti satu-satu. Tak ada foto Raka di sana. Foto yang sangat dia hapal bahkan sudah sempat dia simpan di dalam ponselnya. Perhatiannya teralih kepada satu posting temannya yang sama dengan Raka. Foto Raka ada di deret itu. Seketika rasa lemas merambat di sekujur tubuh Mia.

Jadi, gini? Raka sekarang pakai inner circle? Dan dia nggak masukin aku di dalam listnya sementara dia adalah satu-satunya orang dalam inner circle-ku?”

Mia masih terpaku di jalan setapak kampusnya.

“Ini sama saja aku nggak berteman sama dia. Buat apa dia terima undangan pertemananku sementara dia nggak mau momentnya aku lihat? Hanya untuk menghargaiku? Itu bukan alasan yang tepat. Ini lebih menyakitkan dari sekadar ditolak.” Pikiran-pikiran negatif mulai muncul di kepala Mia.

Airmata perlahan mengalir di pipinya bersamaan dengan rintik hujan yang turun dalam tenang. Dia tekan tombol log out di aplikasi itu. Lalu dia masukkan ponselnya ke dalam saku.

Kalau begini aku bisa mengartikan sendiri bahwa kamu sedang mengucapkan selamat tinggal. Tapi, sungguh ini lebih menyakitkan dari kata selamat tinggal.

Penasaran

Rasa penasaran itu memang candu. Kalau sudah penasaran segala macam pasti dilakukan. Entah dari hal biasa hingga hal gila sekali pun. Ada salah seorang teman yang pernah bilang kalau “berawal dari penasaran akan timbul rasa sayang”. Aku kira ini memang benar adanya. Ketika kamu merasa penasaran pastilah kamu giat mencari tahu sebagai obat penawar rasa penasaranmu itu. Ya, aku juga melakukannya. Apalagi ketika merasa penasaran dengan seseorang yang menarik bagimu. Untuk kesekian kalinya aku merasa penasaran dengan seseorang yang bahkan baru kukenal. Demi Tuhan awalnya aku tak peduli padanya tapi lama-kelamaan semua menjadi menarik bagiku apalagi saat kesempatan tak mendukungku untuk sekadar melihat wajahnya dari jauh. Pencarian kulakukan dalam diamku. Tanpa dia tahu. Kuharap dia tak akan pernah tahu. Di masa digital yang serba mudah dan instan seperti sekarang ini ranah informasi terutama mesin pencari menjadi sahabat bagi mereka yang tak kunjung sembuh dari rasa penasaran. Kulakukan pula hal yang sama. Mencari dalam diam hingga aku mendapati diriku sendiri menjadi seseorang yang lambat laun berubah. Bukan berubah menjadi orang lain. Tapi, ada yang aku harapkan dan aku terus pikirkan karena pencarian tersebut. Dia yang mungkin tak akan pernah tahu sampai kapan pun bahwa semakin hari aku semakin berharap ada keajaiban tentangnya. Di ujung penantian dan di ujung pencarianku hanya ada dua hal yang pasti akan terjadi, pertama akan ada saatnya pencarianku menemukan hasil yang selama ini aku harapkan. Dan yang kedua adalah sebuah jawaban yang berusaha sekuat tenaga aku hindari dalam pikiran. Keduanya adalah sesuatu yang berarti. Tak ada kata sia-sia. Dan aku tak akan pernah menyesal akan kehadiran semunya yang walau hanya sekejap mata.